Selasa, 18 Februari 2020

Pandangan Politik Masyarakat NU


Paradigma Islam Nusantara dan Tendensi Kelompok Intoleran

Istilah Islam Nusantara yang sering didengungkan oleh Masyarakat Nahdlatul Ulama’ menjadi pembahasan yang ramai dan menarik di lingkungan masyarakat Islam Indonesia. Dukungan dan kesepahaman banyak muncul dari berbagai elemen yang ada di Indonesia karena Islam Nusantara dianggap men-jembatani konteks Islam dan budaya yang ada di negeri ini. Namun di sisi lain ada juga sebagian kelompok yang mungkin kurang mengenal lebih jauh tentang Islam Nusantara yang menjadikannya menolak bahkan menganggap pemikiran ini “sesat”, tentu itu menjadi tanda tanya yang besar.
Ramainya pembahasan Islam Nusantara semakin menjadi ketika datangnya tahun politik, hal ini tidak bisa dipungkiri  karena belakangan ini banyaknya oknum-oknum dengan mengatasnamakan agama yang membuat gaduh masyarakat dan tidak bertanggung jawab, mereka hanya mengusung kepentingan kelompok tertentu tanpa memperdulikan kepentingan rakyat menyeluruh. Kita tahu bahwa selama tahun politik yang dimulai pada tahun 2014 lalu ketika pemilihan Presiden memunculkan banyak permasalahan yang sampai sekarang dapat dirasakan. Adanya kelompok tertentu dengan membawa isu isu agama ke panggung politik dan merasa paling benar menimbulkan banyaknya gejala sosial antar kelompok maupun antar masyarakat. Munculnya kelompok-kelompok yang merasa benar sendiri itu bisa disebut sebagai kelompok yang intoleran, penyebutan itu patut disandang karena mereka tidak dapat mengakui dan menghargai akan adanya perbedaan yang di bungkus dalam ideologi Pancasila. Adanya kelompok yang menunggangi kontestasi itu dengan bertujuan mengangkat pemikiran yang anti Pancasila supaya diterima di masyarakat, dengan gampangnya mereka memvonis orang yang tidak sejalan walaupun sesama muslim dengan sebutan kafir atau sesat, lalu pertanyaannya adalah jika ke sesama islam mereka suka menyalahkan, bagaimana sikap mereka ke kelompok non islam?
Disisi lain jikalau ada oknum oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut  pastinya ada juga kelompok yang mengimbangi. Nahdlatul Ulama’ (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia berperan penting atas gejala gejala sosial yang telah ramai di masyarakat. Organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926 bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi dengan mengusung Ahlussunnah wal Jamaah.[1] Nahdlatul Ulama dengan lantang mengkampanyekan pemikiran “Islam Nusantara”, ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) mengatakan dalam ceramahnya di acara Istighotsah menyambut Ramadhan dan pembukaan munas alim ulama NU, NU akan terus memperjuangkan dan mengawal pemikiran model Islam Nusantara.
Islam Nusantara disebut dengan wajah islam yang ada di Nusantara, yakni perpaduan antara agama Islam dengan budaya yang ada di Nusantara dengan tanpa merubah sedikitpun tentang ajaran agama Islam. Dari konteks di atas dapat dilihat meskipun Islam Nusantara mengedepankan budaya atau memberikan nuansa baru dalam beragama Islam. Namun, sama sekali tidak merubah kemurnian ajaran Islam itu sendiri, tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam beragama. Justru dengan Islam Nusantara, penganut ajaran Islam terkesan tidak kaku dan lebih humble.[2] Pemikiran ini mengedepankan tentang bagaimana agama Islam bisa diterima oleh beragam kelompok dan mewujudkan Islam yang ramah nan teduh bukan Islam yang marah. Seperti apa yang telah diucapkan oleh ketua PBNU "Islam Nusantara bukan agama baru dan juga bukan aliran baru, tetapi Islam Nusantara ialah pemikiran dilandaskan pada sejarah Islam masuk ke Nusantara dengan tidak melalui jalur peperangan, tetapi melalui kompromi terhadap budaya,"[3] Hal ini ramai didengungkan oleh warga Nahdlatul Ulama dengan ditujukan membangun kerukunan, persatuan, dan toleransi.
Dengan segala pertimbangan melalui Alim Ulama’ NU di Nusantara ini, pemikiran Islam Nusantara akhirnya ramai digaungkan sejak 2015 ketika Muktamar NU di Jombang dengan tanpa keraguan sedikitpun dalam menjaga toleransi di Nusantara ini. Peranan penting yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama dalam menjaga kerukunan dan toleransi di masyarakat mendapatkan banyak dukungan oleh berbagai pihak. Gayung bersambut, Presiden Republik Indonesia dengan jelas telah memberi dukungan terhadap pemikiran model Islam Nusantara ini, "Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh dengan sopan santun, Islam yang penuh dengan tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi," sambut Presiden Jokowi dalam acara Munas Alim Ulama NU di Masjid Istiqlal tahun 2015 lalu.[4] Islam Nusantara yang berangkat dari apa yang sudah dijalankan di Indonesia tetaplah konsep Islam yang usang. Islam Nusantara yang dirindukan adalah jenis pemahaman baru, yang kini masuk ke era digital, dengan keberagaman yang kompleks[5]
Pada arah berlawanan tentu juga ada pihak pihak yang kurang memahami lebih jauh tentang model pemikiran Islam Nusantara ini dan menjadikannya melakukan penolakan bahkan menyebutkan bahwa pemikiran ini adalah sesat. Ada banyak hal yang menyebabkan penolakan penolakan seperti itu terjadi salah satunya adalah ketika datangnya tahun politik akan bermunculannya kelompok kelompok yang memiliki kepentingan tertentu, untuk mewujudkannya adalah dengan cara menjatuhkan kelompok lain yang dianggap tidak sejalan dengannya.  Meskipun NU adalah organisasi islam terbesar di Indonesia, tentu juga akan banyak kelompok-kelompok yang tidak suka dengan eksistensi NU, seperti yang pepatah katakan “Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa.”
Panasnya isu penolakan terhadap pemikiran Islam Nusantara dimulai ketika ramainya tahun politik sebelum ataupun sesudah Pemilihan Presiden. Kita mungkin tidak asing dengan istilah dua kubu dengan sebutan kubu 01 ataupun 02, yang didalamnya berisi banyak gejala-gejala sosial. Adanya pihak yang secara terselubung menunggangi kentestasi tersebut untuk memcah pelah idiologi Indonesia yakni Pancasila. Mereka memiliki tujuan yang sama yakni dengan memenangkan jagoan mereka, namun caranya terkadang salah karena dengan adanya perbedaan mereka saling menyalahkan satu sama lain, tentunya hal ini menimbulkan gejala gejala sosial di masyarakat luas. Organisasi terlarang pun ikut menunggangi suatu kelompok tersebut dengan tujuan menimbulkan perpecahan antar masyarakat.
Banyaknya bermunculan fitnah dan berita Hoaxs yang ada terjadi di masyarakat disebabkan dengan adanya perbedaan itu. Dengan dalih kebebasan berpendapat, banyak oknum oknum yang melakukan hate speech dan penyebaran Hoaxs. Bahkan pemilihan Presiden telah usaipun fenomena itu masih terus terjadi di masyarakat luas
Dalam hal ini Nahdlatul Ulama’ yang dikenal sebagai organisasi agama  yang memiliki jiwa nasionalis tinggi diuji akan keberadaannya. Nahdlatul Ulama’ berpedoman akan mendukung siapapun yang menjadi pemimpin di negeri ini, siapapun yang menjadi pemimpin Indonesia wajiblah untuk didukung, namun jika ada hal yang kurang baik dalam pemerintahan, wajib juga untuk mengingatkan dengan cara yang baik.
Kembali dengan pepatah “Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa.” Sangat cocok disandangkan dengan Nahdlatul Ulama, banyaknya oknum yang ingin menjatuhkan NU dengan Pemikiran Islam Nusantara ini jelas sangat menguji kita sebagai warga NU. Pihak pihak yang menolak bahkan menyebut Islam Nusantara sesat itu kebanyakan adalah pihak yang kurang toleran dan suka menyalahkan siapapun yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Salah satu penolakan terhadap Islam Nusantara adalah datangnya dari ketua salah satu ormas islam di indonesia yang terkenal dengan cerahamnya yang menggebu-gebu. Beliau mengatakan “Islam Nusantara no, Islamkan Nusantara yes.”[6] Dalam hal ini beliau menyebutkan bahwa Islam Nusantara telah diselewengkan pihak tertentu dengan merubah ajaran islam sendiri. Jika boleh berpendapat tentang ucapan diatas, kita sebagai manusia hanyalah perantara dalam meng-Islamkan seseorang, manusia hanya menyampaikan apa yang patut disampaikan dalam Agama Islam, namun masalah keimanan seseorang ataupun hidayah Allah SWT adalah diluar kemampuan manusia sendiri. Seperti yang teradapat dalam Al-Quran yang artinya “Kalau tuhanmu menghendaki, tentunya berimanlah semua manusia di bumi. Maka apakah engkau (Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang yang beriman semua?” (QS Yunus 10:99). Selanjutnya ada penolakan yang datang dari ormas yang telah dilarang di Indonesia, ormas itu menyebutkan bahwa Islam Nusantara hanyalah kedok untuk menutupi wajah sekularnya dan mereka menyebutkan bahwa pemikiran ini adalah racun umat islam. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Nahdlatul Ulama dengan ormas terlarang itu memiliki pemahaman yang bersebarangan, apapun yang dikeluarkan oleh NU akan dianggap buruk oleh mereka yang membenci NU.
Indonesia adalah negeri yang makmur dan indah dengan keberagamannya, tentu kita sebagai rakyat mempunyai peranan besar dalam menjaga keutuhan. Indonesia berdiri atas perjuangan semua elemen rakyat Indonesia, entah perbedaan suku, ras, dan agama. Sangat tidak patut jika ada suatu kelompok yang merasa paling benar dan suka menyalahkan kelompok lain hanya karena mengedepankan egonya. Perbedaan pendapat dan pemikiran tidak akan bisa lepas karena kita dilahirkan juga atas nama perbedaan, tentu toleransi harus dikedepankan dalam hal ini. NU dengan Islam Nusantaranya menggaungkan pemikiran yang cocok dengan dengan gejala sosial yang ada saat ini. Lalu kenapa ada saja yang pihak-pihak yang menolak bahkan mencaci? Hal ini tidak bisa dipungkiri  karena adanya kelompok yang anti dengan pancasila dan kurang menghargai akan adanya perbedaan. Kita sebagai warga NU harus menyikapi dengan tangan dingin dan harus mengdepankan Akhlakul Karimah, dan kewajiban selanjutnya adalah sebagai orang islam harus mendoakan sesama islam sekalipun mereka membenci NU, boleh mereka membenci kita, namun jangan kita balas dengan benci juga.





Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org › wiki › Nahdlatul_'Ulama
Puji Astuti. Hanum Azimah, 2017. ISLAM NUSANTARA: Sebuah Argumentasi Beragama dalam Bingkai Kultural
https://news.detik.com/berita/d-4133868/heboh-islam-nusantara
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam_nusantara
Romli. Muhamad Guntur, 2016.  Islam Kita, Islam Nusantara: Lima Nilai Dasar Islam Nusantara
https://merahputih.com/post/read/habib-rizieq-islam-nusantara-no-islamkan-nusantara-yes



[1] Https://id.wikipedia.org › wiki › Nahdlatul_'Ulama
[2] Hanum 2017:33
[3] https://news.detik.com/berita/d-4133868/heboh-islam-nusantara
[4] https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam_nusantara
[5] Guntur Romli 2016:14
[6] https://merahputih.com/post/read/habib-rizieq-islam-nusantara-no-islamkan-nusantara-yes