Paradigma
Islam Nusantara dan Tendensi Kelompok Intoleran
Istilah
Islam Nusantara yang sering didengungkan oleh Masyarakat Nahdlatul Ulama’
menjadi pembahasan yang ramai dan menarik di lingkungan masyarakat Islam
Indonesia. Dukungan dan kesepahaman banyak muncul dari berbagai elemen yang ada
di Indonesia karena Islam Nusantara dianggap men-jembatani konteks Islam dan budaya
yang ada di negeri ini. Namun di sisi lain ada juga sebagian kelompok yang
mungkin kurang mengenal lebih jauh tentang Islam Nusantara yang menjadikannya
menolak bahkan menganggap pemikiran ini “sesat”, tentu itu menjadi tanda tanya
yang besar.
Ramainya
pembahasan Islam Nusantara semakin menjadi ketika datangnya tahun politik, hal
ini tidak bisa dipungkiri karena belakangan
ini banyaknya oknum-oknum dengan mengatasnamakan agama yang membuat gaduh
masyarakat dan tidak bertanggung jawab, mereka hanya mengusung kepentingan
kelompok tertentu tanpa memperdulikan kepentingan rakyat menyeluruh. Kita tahu
bahwa selama tahun politik yang dimulai pada tahun 2014 lalu ketika pemilihan
Presiden memunculkan banyak permasalahan yang sampai sekarang dapat dirasakan. Adanya
kelompok tertentu dengan membawa isu isu agama ke panggung politik dan merasa
paling benar menimbulkan banyaknya gejala sosial antar kelompok maupun antar
masyarakat. Munculnya kelompok-kelompok yang merasa benar sendiri itu bisa
disebut sebagai kelompok yang intoleran, penyebutan itu patut disandang karena
mereka tidak dapat mengakui dan menghargai akan adanya perbedaan yang di
bungkus dalam ideologi Pancasila. Adanya kelompok yang menunggangi kontestasi itu
dengan bertujuan mengangkat pemikiran yang anti Pancasila supaya diterima di
masyarakat, dengan gampangnya mereka memvonis orang yang tidak sejalan walaupun
sesama muslim dengan sebutan kafir atau sesat, lalu pertanyaannya adalah jika
ke sesama islam mereka suka menyalahkan, bagaimana sikap mereka ke kelompok non
islam?
Disisi
lain jikalau ada oknum oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut pastinya ada juga kelompok yang mengimbangi.
Nahdlatul Ulama’ (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia berperan
penting atas gejala gejala sosial yang telah ramai di masyarakat. Organisasi
yang berdiri pada 31 Januari 1926 bergerak di bidang keagamaan, pendidikan,
sosial, dan ekonomi dengan mengusung Ahlussunnah wal Jamaah.[1] Nahdlatul
Ulama dengan lantang mengkampanyekan pemikiran “Islam Nusantara”, ketua Pengurus
Besar Nahdatul Ulama (PBNU) mengatakan dalam ceramahnya di acara Istighotsah menyambut Ramadhan dan pembukaan
munas alim ulama NU, NU akan terus memperjuangkan dan mengawal pemikiran
model Islam Nusantara.
Islam
Nusantara disebut dengan wajah islam yang ada di Nusantara, yakni perpaduan
antara agama Islam dengan budaya yang ada di Nusantara dengan tanpa merubah
sedikitpun tentang ajaran agama Islam. Dari konteks di atas
dapat dilihat meskipun Islam Nusantara mengedepankan budaya atau memberikan
nuansa baru dalam beragama Islam. Namun, sama sekali tidak merubah kemurnian
ajaran Islam itu sendiri, tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam
beragama. Justru dengan Islam Nusantara, penganut ajaran Islam terkesan tidak kaku
dan lebih humble.[2]
Pemikiran ini mengedepankan tentang bagaimana agama Islam bisa diterima oleh
beragam kelompok dan mewujudkan Islam yang ramah nan teduh bukan Islam yang
marah. Seperti apa yang telah diucapkan oleh ketua PBNU "Islam Nusantara
bukan agama baru dan juga bukan aliran baru, tetapi Islam Nusantara ialah
pemikiran dilandaskan pada sejarah Islam masuk ke Nusantara dengan tidak
melalui jalur peperangan, tetapi melalui kompromi terhadap budaya,"[3]
Hal ini ramai didengungkan oleh warga Nahdlatul Ulama dengan ditujukan
membangun kerukunan, persatuan, dan toleransi.
Dengan
segala pertimbangan melalui Alim Ulama’ NU di Nusantara ini, pemikiran Islam
Nusantara akhirnya ramai digaungkan sejak 2015 ketika Muktamar NU di Jombang
dengan tanpa keraguan sedikitpun dalam menjaga toleransi di Nusantara ini. Peranan penting yang dilakukan oleh
Nahdlatul Ulama dalam menjaga kerukunan dan toleransi di masyarakat mendapatkan
banyak dukungan oleh berbagai pihak. Gayung bersambut, Presiden Republik
Indonesia dengan jelas telah memberi dukungan terhadap pemikiran model Islam
Nusantara ini, "Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh dengan
sopan santun, Islam yang penuh dengan tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam
yang penuh toleransi," sambut Presiden Jokowi dalam acara Munas Alim Ulama
NU di Masjid Istiqlal tahun 2015 lalu.[4]
Islam Nusantara yang berangkat dari apa yang sudah dijalankan di Indonesia
tetaplah konsep Islam yang usang. Islam Nusantara yang dirindukan adalah jenis
pemahaman baru, yang kini masuk ke era digital, dengan keberagaman yang
kompleks[5]
Pada
arah berlawanan tentu juga ada pihak pihak yang kurang memahami lebih jauh
tentang model pemikiran Islam Nusantara ini dan menjadikannya melakukan
penolakan bahkan menyebutkan bahwa pemikiran ini adalah sesat. Ada banyak hal
yang menyebabkan penolakan penolakan seperti itu terjadi salah satunya adalah
ketika datangnya tahun politik akan bermunculannya kelompok kelompok yang
memiliki kepentingan tertentu, untuk mewujudkannya adalah dengan cara
menjatuhkan kelompok lain yang dianggap tidak sejalan dengannya. Meskipun NU adalah organisasi islam terbesar
di Indonesia, tentu juga akan banyak kelompok-kelompok yang tidak suka dengan
eksistensi NU, seperti yang pepatah katakan “Semakin tinggi pohon, semakin
kencang angin menerpa.”
Panasnya
isu penolakan terhadap pemikiran Islam Nusantara dimulai ketika ramainya tahun
politik sebelum ataupun sesudah Pemilihan Presiden. Kita mungkin tidak asing
dengan istilah dua kubu dengan sebutan kubu 01 ataupun 02, yang didalamnya
berisi banyak gejala-gejala sosial. Adanya pihak yang secara terselubung
menunggangi kentestasi tersebut untuk memcah pelah idiologi Indonesia yakni
Pancasila. Mereka memiliki tujuan yang sama yakni dengan memenangkan jagoan
mereka, namun caranya terkadang salah karena dengan adanya perbedaan mereka
saling menyalahkan satu sama lain, tentunya hal ini menimbulkan gejala gejala
sosial di masyarakat luas. Organisasi terlarang pun ikut menunggangi suatu
kelompok tersebut dengan tujuan menimbulkan perpecahan antar masyarakat.
Banyaknya
bermunculan fitnah dan berita Hoaxs yang ada terjadi di masyarakat disebabkan
dengan adanya perbedaan itu. Dengan dalih kebebasan berpendapat, banyak oknum
oknum yang melakukan hate speech dan penyebaran Hoaxs. Bahkan pemilihan
Presiden telah usaipun fenomena itu masih terus terjadi di masyarakat luas
Dalam
hal ini Nahdlatul Ulama’ yang dikenal sebagai organisasi agama yang memiliki jiwa nasionalis tinggi diuji
akan keberadaannya. Nahdlatul Ulama’ berpedoman akan mendukung siapapun yang
menjadi pemimpin di negeri ini, siapapun yang menjadi pemimpin Indonesia
wajiblah untuk didukung, namun jika ada hal yang kurang baik dalam
pemerintahan, wajib juga untuk mengingatkan dengan cara yang baik.
Kembali
dengan pepatah “Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa.” Sangat cocok
disandangkan dengan Nahdlatul Ulama, banyaknya oknum yang ingin menjatuhkan NU
dengan Pemikiran Islam Nusantara ini jelas sangat menguji kita sebagai warga
NU. Pihak pihak yang menolak bahkan menyebut Islam Nusantara sesat itu
kebanyakan adalah pihak yang kurang toleran dan suka menyalahkan siapapun yang
tidak sejalan dengan pemikirannya. Salah satu penolakan terhadap Islam
Nusantara adalah datangnya dari ketua salah satu ormas islam di indonesia yang
terkenal dengan cerahamnya yang menggebu-gebu. Beliau mengatakan “Islam
Nusantara no, Islamkan Nusantara yes.”[6]
Dalam hal ini beliau menyebutkan bahwa Islam Nusantara telah diselewengkan
pihak tertentu dengan merubah ajaran islam sendiri. Jika boleh berpendapat
tentang ucapan diatas, kita sebagai manusia hanyalah perantara dalam
meng-Islamkan seseorang, manusia hanya menyampaikan apa yang patut disampaikan
dalam Agama Islam, namun masalah keimanan seseorang ataupun hidayah Allah SWT
adalah diluar kemampuan manusia sendiri. Seperti yang teradapat dalam Al-Quran
yang artinya “Kalau tuhanmu menghendaki, tentunya berimanlah semua manusia di
bumi. Maka apakah engkau (Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi
orang yang beriman semua?” (QS Yunus 10:99). Selanjutnya ada penolakan yang
datang dari ormas yang telah dilarang di Indonesia, ormas itu menyebutkan bahwa
Islam Nusantara hanyalah kedok untuk menutupi wajah sekularnya dan mereka
menyebutkan bahwa pemikiran ini adalah racun umat islam. Memang tidak bisa
dipungkiri bahwa Nahdlatul Ulama dengan ormas terlarang itu memiliki pemahaman
yang bersebarangan, apapun yang dikeluarkan oleh NU akan dianggap buruk oleh
mereka yang membenci NU.
Indonesia
adalah negeri yang makmur dan indah dengan keberagamannya, tentu kita sebagai
rakyat mempunyai peranan besar dalam menjaga keutuhan. Indonesia berdiri atas
perjuangan semua elemen rakyat Indonesia, entah perbedaan suku, ras, dan agama.
Sangat tidak patut jika ada suatu kelompok yang merasa paling benar dan suka
menyalahkan kelompok lain hanya karena mengedepankan egonya. Perbedaan pendapat
dan pemikiran tidak akan bisa lepas karena kita dilahirkan juga atas nama
perbedaan, tentu toleransi harus dikedepankan dalam hal ini. NU dengan Islam
Nusantaranya menggaungkan pemikiran yang cocok dengan dengan gejala sosial yang
ada saat ini. Lalu kenapa ada saja yang pihak-pihak yang menolak bahkan mencaci?
Hal ini tidak bisa dipungkiri karena
adanya kelompok yang anti dengan pancasila dan kurang menghargai akan adanya
perbedaan. Kita sebagai warga NU harus menyikapi dengan tangan dingin dan harus
mengdepankan Akhlakul Karimah, dan kewajiban selanjutnya adalah sebagai orang
islam harus mendoakan sesama islam sekalipun mereka membenci NU, boleh mereka
membenci kita, namun jangan kita balas dengan benci juga.
Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org
› wiki › Nahdlatul_'Ulama
Puji
Astuti. Hanum Azimah, 2017. ISLAM NUSANTARA: Sebuah Argumentasi Beragama dalam
Bingkai Kultural
https://news.detik.com/berita/d-4133868/heboh-islam-nusantara
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam_nusantara
Romli.
Muhamad Guntur, 2016. Islam Kita, Islam
Nusantara: Lima Nilai Dasar Islam Nusantara
https://merahputih.com/post/read/habib-rizieq-islam-nusantara-no-islamkan-nusantara-yes
[3]
https://news.detik.com/berita/d-4133868/heboh-islam-nusantara
[4]
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam_nusantara
[5]
Guntur Romli 2016:14
[6]
https://merahputih.com/post/read/habib-rizieq-islam-nusantara-no-islamkan-nusantara-yes
Tidak ada komentar:
Posting Komentar